Sejarah Islam di Benua Amerika
October 29, 2007
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada mang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman,
tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman,
dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasikĀ(QS:110:3) Amerika bukanlah benua dan negeri yang asing bagi umat Islam. Para pengembara
dan pelaut muslim Andalusia (Spanyol Islam) dan Afrika barat telah tiba di pesisirnya dan menjelajah pedalamannya, lima abad sebelum christopher Columbus
mengaku menemukan benua Amerika. Sebagian dari umat Islam itu bahkan kemudian berasimilasi dengan 'penduduk asli' Indian Amerika. Sisa-sisa peninggalan dan peradaban berupa; Rerutuhan masjid, artefak dan catatan sejarah para ahli sejarah muslim ataupun non-muslim; Bukti-bukti geografi berupa peta-peta dunia dan Amerika berikut nama-nama pegunungan, pulau, sungai, kota, dll.; serta bukti-bukti lingusitik berupa pemakaian bahasa Arab atau yang berakar kata dari bahasa Arab menjadi bukti itu semua. Coba kita buka peta Amerika hari ini dari Rand McNally dan teliti nama-nama tempat yang ada di sana. Di tengah kota Los Angeles hari ini misalnya, terdapat nama kawasan Alhambra, juga nama-nama teluk El Morro dan Alamitos serta nama-nama tempat seperti Andalusia, Attilla, Alla, Aladdin, Albany, Alcazar, Alameda, Alomar, Almansor, Almar, Alva, Amber, Azure, dan La Habra; di bagian tengah Amerika dari selatan hingga Illinois terdapat nama-nama kota Albany, Andalusia, Attalla, Lebanon, Tullahoma; di negara bagian Washington misalnya ada kota Salem; di Karibia (yang ini jelas kata Arab) dan Amerika Tengah misalnya nama Jamaika, Pulau Cuba (apakah ini juga berasal dari kata Quba?) dengan ibukotanya La Habana (Havana), serta pulau-pulau Grenada, Barbados, Bahama, dan Nassau; di Amerika Selatan terdapat nama kota-kota Cordoba (di Argentina), Alcantara (di Brazil), Bahia (di Brazil & Argentina). Nama-nama pegunungan Appalachian (Apala-che) di pantai timur dan pegunungan Absarooka di pantai barat. Kota besar di Ohio pada muara sungai Wabash yang panjang dan meliuk-liuk bernama Toledo yang juga nama universitas Islam di Andalusia. Menurut Dr. Youssef Mroueh1, hari ini di Amerika Utara terdapat 565 nama tempat, baik negara bagian, kota, sungai, gunung, danau, dan desa yang diambil dari nama Islam ataupun nama dengan akar kata bahasa Arab. Sebanyak 484 di Amerika Serikat dan 81 di Canada. Nama-nama ini diberikan oleh penduduk asli yang telah ada sebelum Columbus menginjakkan kakinya ke Amerika. Dr. A. Zahoor menuliskan bahwa nama negara bagian seperti Alabama berasal dari kata Allah bamya, dan juga nama negara Arkansas berasal dari kata Arkan-Sah, serta Tennesse dari Tanasuh. Bagaimana dengan nama Oklahoma dan California?. Dr. Mroueh juga menuliskan beberapa nama yang dicatatnya malah merupakan nama kota suci kita seperti Mecca di Indiana, Medina di Idaho, Medina di New York, Medina dan Hazen di North Dakota, Medina di Ohio, Medina di Tennessee, Medina di Texas yang paling besar dengan penduduk 26,000, Medina di Ontario Canada, kota Mahomet di Illinois, Mona di Utah, dan Arva di Ontario Canada.Ketika Columbus mendarat di kepulauan Bahama pada 12 Oktober 1492, pulau itu sudah dinamai Guanahani oleh penduduknya. Kata ini berasal dari bahasa Mandika yang merupakan turunan dari bahasa Arab. Dilaporkan oleh Columbus bahwa penduduk asli di sini bersahabat dan suka menolong. Guana, yang hingga hari ini masih banyak dipakai sebagai nama di kawasan Amerika Tengah, Selatan dan Utara, berasal dari kata Ikhwana yang berarti 'saudara' dalam bahasa Arab. Guanahani berarti tempat keluarga Hani bersaudara. Namun Columbus dengan sesuka hati menamakan tempat ini sebagai San Salvador dan merampas kepemilikan pulau itu atas nama kerajaan Spanyol2. Columbus dalam catatannya menuliskan bahwa pada 21 Oktober 1492 saat kapalnya melewati Gibara di pesisiran timur laut Cuba, telah menyaksikan sebuah mesjid yang dibangun di atas sebuah bukit yang indah. Menurut catatan Dr. Youssef Mroueh3, reruntuhan mesjid beserta menaranya dengan tulisan ayat-ayat Al Qur'an telah ditemukan selain di Cuba, juga di Mexico, Texas dan Nevada. Para ahli geografi dan intelektual dari kalangan muslim yang mencatat perjalanan ke benua Amerika itu adalah Abul-Hassan Ali Ibn Al Hussain Al Masudi (meninggal tahun 957), Al Idrisi (meninggal tahun 1166), Chihab Addin Abul Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 - 1384) dan Ibn Battuta (meninggal tahun 1369). Menurut catatan ahli sejarah dan ahli geografi muslim Al Masudi (871 - 957), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad seorang navigator muslim dari Cordoba di Andalusia, telah sampai ke benua Amerika pada tahun 889 Masehi. Dalam bukunya, 'Muruj Adh-dhahab wa Maadin al-Jawhar' (The Meadows of Gold and Quarries of Jewels), Al Masudi melaporkan bahwa semasa pemerintahan Khalifah Spanyol Abdullah Ibn Muhammad (888 - 912), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad berlayar dari Delba (Palos) pada tahun 889, menyeberangi Lautan Atlantik, hingga mencapai wilayah yang belum dikenal yang disebutnya Ard Majhoola, dan kemudian kembali dengan membawa berbagai harta yang menakjubkan.4 Sesudah itu banyak pelayaran yang dilakukan mengunjungi daratan di seberang Lautan Atlantik, yang gelap dan berkabut itu. Al Masudi juga menulis buku 'Akhbar Az Zaman' yang memuat bahan-bahan sejarah dari pengembaraan para pedagang ke Afrika dan Asia. Dr. Youssef Mroueh juga menulis bahwa selama pemerintahan Khalifah Abdul Rahman III (tahun 929-961) dari dinasti Umayah, tercatat adanya orang-orang Islam dari Afrika yang berlayar juga dari pelabuhan Delba (Palos) di Spanyol ke barat menuju ke lautan lepas yang gelap dan berkabut, Lautan Atlantik. Mereka berhasil kembali dengan membawa barang-barang bernilai yang diperolehnya dari tanah yang asing. Beliau juga menuliskan menurut catatan ahli sejarah Abu Bakr Ibn Umar Al-Gutiyya bahwa pada masa pemerintahan Khalifah Spanyol, Hisham II (976-1009) seorang navigator dari Granada bernama Ibn Farrukh tercatat meninggalkan pelabuhan Kadesh pada bulan Februari tahun 999 melintasi Lautan Atlantik dan mendarat di Gando (Kepulaun Canary). Ibn Farrukh berkunjung kepada Raja Guanariga dan kemudian melanjutkan ke barat hingga melihat dua pulau dan menamakannya Capraria dan Pluitana. Ibn Farrukh kembali ke Spanyol pada bulan Mei 999. Perlayaran melintasi Lautan Atlantik dari Maroko dicatat juga oleh penjelajah laut Shaikh Zayn-eddin Ali bin Fadhel Al-Mazandarani. Kapalnya berlepas dari Tarfay di Maroko pada zaman Sultan Abu-Yacoub Sidi Youssef (1286 - 1307) raja keenam dalam dinasti Marinid. Kapalnya mendarat di pulau Green di Laut Karibia pada tahun 1291. Menurut Dr. Morueh, catatan perjalanan ini banyak dijadikan referensi oleh ilmuwan Islam. Sultan-sultan dari kerajaan Mali di Afrika barat yang beribukota di Timbuktu, ternyata juga melakukan perjalanan sendiri hingga ke benua Amerika. Sejarawan Chihab Addin Abul-Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 - 1384) memerinci eksplorasi geografi ini dengan seksama. Timbuktu yang kini dilupakan orang, dahulunya merupakan pusat peradaban, perpustakaan dan keilmuan yang maju di Afrika. Ekpedisi perjalanan darat dan laut banyak dilakukan orang menuju Timbuktu atau berawal dari Timbuktu. Sultan yang tercatat melanglang buana hingga ke benua baru saat itu adalah Sultan Abu Bakari I (1285 - 1312), saudara dari Sultan Mansa Kankan Musa (1312 - 1337), yang telah melakukan dua kali ekspedisi melintas Lautan Atlantik hingga ke Amerika dan bahkan menyusuri sungai Mississippi. Sultan Abu Bakari I melakukan eksplorasi di Amerika tengah dan utara dengan menyusuri sungai Mississippi antara tahun 1309-1312. Para eksplorer ini berbahasa Arab. Dua abad kemudian, penemuan benua Amerika diabadikan dalam peta berwarna Piri Re'isi yang dibuat tahun 1513, dan dipersembahkan kepada raja Ottoman Sultan Selim I tahun 1517. Peta ini menunjukkan belahan bumi bagian barat, Amerika selatan dan bahkan benua Antartika, dengan penggambaran pesisiran Brasil secara cukup akurat.5 Beberapa nama-nama suku Indian dan kepala sukunya juga berasal dari akar kata bahasa Arab, seperti: Anasazi, Apache, Arawak, Cherokee (Shar-kee), Arikana, Chavin Cree, Makkah, Hohokam, Hupa, Hopi, Mahigan, Mohawk, Nazca, Zulu, dan Zuni. Kepala suku Indian Cherokee yang terkenal, Sequoyah yang nama aslinya Sikwoya, merupakan ketua suku yang sangat terkenal karena beliau menciptakan sillabel huruf-huruf (Cherokee Syllabary) bagi orang Indian pada tahun 1821. Namanya diabadikan sebagai nama pohon Redwood yang tertinggi di California, sekarang dapat disaksikan di taman hutan lindung di utara San Francisco. Berlainan dengan gambaran stereotip tentang suku Indian yang selalu mengenakan bulu-bulu burung warna-warni di kepualanya, Sequoyah selalu mengenakan sorban. Dia tidak sendirian, masih banyak ketua suku Indian yang mengenakan tutup kepala gaya orang Islam. Mereka adalah Chippewa, Creek, Iowa, Kansas, Miami, Potawatomi, Sauk, Fox, Seminole, Shawnee, Sioux, Winnebago, dan Yuchi. Bahkan sebagian dari mereka mengenakan penutup kepala yang khas Arab seperti ditunjukkan pada foto-foto tahun 1835 dan 1870. 6 Orang-orang Indian Amerika juga memegang nilai ketuhanan dengan mempercayai adanya Tuhan yang menguasai seluruh alam semesta ini, dan Tuhan tersebut tidak teraba oleh panca indera. Mereka juga meyakini bahwa tugas utama manusia diciptakan oleh Tuhan adalah untuk memuja dan menyembahnya. Seperti penuturan seorang kepala suku Ohiyesa:"In the life of the Indian, there was only inevitable duty -the duty of prayer- the daily recognition of the Unseen and the Eternal". Di dalam Al Qur'an, kita diberitahukan bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin adalah semata-mata demi untuk beribadah kepada Allah SWT. Sederetan intelektual barat abad ke-20 secara langsung maupun tak langsung juga mengemukakan hasil penelitiannya bahwa orang-orang orang-orang Islam telah ada di Amerika sebelum Columbus 'menemukan' Amerika, 1492. Mereka dan buku mereka antara lain adalah: Leo Weiner dari Harvard University, dalam Africa and The Discovery of America (1920) menulis bahwa orang-orang Islam sudah mendahului Columbus serta berkawin dengan penduduk asli; Ahli sejarah seni Jerman Alexander Von Wuthenau yang menulis dalam buku klasiknya Unexpected Faces in Ancient America (1975); Ivan Van Sertima dengan buku originalnya They Came Before Columbus (1976) dan juga mengedit buku African Presence In Early America di mana intelektual Perancis abad ke-19 Brasseur de Bourboug di situ mengungkapkan keberadaan orang-orang Islam di Amerika tengah, yang juga didukung essei dari P.V. Ramos dalam buku yang sama tentang keberadaan 'Mohemmedans' di 'Carib' yang dijumpai Columbus; ahli arkeologi dan linguis Howard Barraclough (Barry) Fell juga dari Harvard University dengan karyanya Saga America (1980); Colin Taylor yang mengedit kumpulan tulisan The Native Americans (1991); serta orientalis Inggris De Lacy O'Leary yang menulis Arabic Thought and It's Place In Western History (1992).7 Menurut Gavin Menzies, seorang bekas pelaut yang menerbitkan hasil penelusurannya, menemukan adanya peta empat buah pulau di Karibia yang dibuat pada tahun 1424 dan ditandatangani oleh Zuane Pissigano, kartografer dari Venesia. Peta ini berarti dibuat 68 tahun sebelum Columbus mendarat di Amerika. Dua pulau pada peta ini kemudian diidentifikasi sebagai Puerto Rico dan Guadalupe. Menzies juga mengemukakan bahwa Laksamana Zheng He telah mendarat di Amerika pada tahun 1421,9 yaitu 71 tahun lebih awal dari Columbus, tetapi 531 tahun sesudah Khaskhas Ibn Saeed Ibn Aswad. Sedangkan dari arah utara, ada teori yang menyebutkan bahwa orang-orang Viking pernah mendarat di benua Amerika bagian timur laut pada sekitar tahun 1000. Perjalanan Columbus dimulai 3 Agustus 1492, sehari setelah terjadinya masalah politik di dalam negeri Spanyol, di mana 300.000 orang Yahudi diusir dari sana oleh raja Ferdinand yang Kristen. Dikisahkan bagaimana para juragan Yahudi mengumpulkan uang untuk membiayai rombongan perjalanan Columbus ini, yang juga dibantu oleh dan berpenumpang orang-orang Yahudi. Meskipun demikian, kapten kapal Pinta dan Nina adalah orang-orang muslim yaitu dua bersaudara Martin Alonso Pinzon dan Vicente Yanex Pinzon yang masih keluarga dari Sultan Maroko Abuzayan Muhammad III (1362).11 Berita 'penemuan benua Amerika' dikirim pertama kali oleh Christopher Columbus kepada kawan-kawannya orang Yahudi di Spanyol. Pelayaran Columbus ini nampaknya haus publikasi dan diperlukan untuk menciptakan legenda sesuai dengan 'pesan sponsor' Yahudi sang penyandang dana. Kisah selanjutnya kita tahu bahwa media massa dan publikasi dikuasai oleh orang-orang Yahudi yang bahkan dibenci oleh orang-orang seperti Henry Ford si raja mobil Amerika itu. Maka tampak ada ketidak-jujuran dalam menuliskan fakta sejarah tentang penemuan benua Amerika. Penyelewengan sejarah oleh orang-orang Yahudi yang terjadi sejak pertama kali mereka bersama-sama orang Eropa menjejakkan kaki ke benua Amerika. Terlepas dari diskusi siapa sebenarnya yang pertama kali menemukan benua Amerika, ini semuanya hanya beberapa keping anak jigsaw puzzle yang membuat gambaran menjadi lebih jelas. Mungkin kelak akan ditemukan siapa yang lebih dulu lagi dating, dengan menggunakan metode penelusuran yang lebih canggih seperti tes DNA atau yang lebih canggih dari itu. Namun demikian bukti-bukti geografis, lingusitik, budaya, sejarah, dan juga politik telah menguak tirai yang menutupi kebenaran. Benua Amerika dari Argentina hingga Canada telah dirambah oleh hamba-hamba Allah yang sabar dalam mengarungi Lautan Atlantik, belantara Amazon, pegunungan cadas hingga padang rumput dan tundra. Mereka datang bukan untuk menaklukkan, mereka telah menyatu dan berasimilasi dengan penduduk asli Amerika, dan bahkan menggembangkan budaya 'lokal'-nya sendiri. Dan yang lebih terutama lagi dalam kerangka pembahasan budaya kemaritiman umat Islam, telah terbukti bahwa orang-orang Islam seperti Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad dan penerusnya sudah mempunyai pengetahuan dan teknologi untuk menyeberangi lautan Atlantik. Peta-peta geografi telah mampu mereka buat. Teknik navigasi telah mereka kuasai. Pengetahuan tentang arus Lautan Atlantik telah mereka fahami. Dan perahu-perahu yang kokoh berhasil mereka bina untuk menyeberangi lautan gelap dan berkabut, yang saat itu masih merupakan misteri. Dengan kata lain dari pelayaran ke benua Amerika ini berarti umat Islam sejak abad ke-9 masehi, telah memiliki tradisi kemaritiman yang unggul. Sementara bangsa rumpun Cina di Asia timur belum seabad mengenal pelayaran laut dan pada masa itu pula bangsa-bangsa di Eropa tengah dan utara masih hidup di dalam zaman kegelapan, the Dark Ages.
Entry Filed under: Islami. Tags: Sejarah Islam di Amerika.
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed