Antara Tertawa dan Menagis
October 29, 2007
'Antara Menangis dan Tertawa..
Pada suatu ketika di Hari Raya Idul Fitri, sufi Ibn al-Wardi bertemu
dengan
sekelompok orang yang sedang tertawa terbahak-bahak. Melihat
pemandangan itu,
Ibn al-Wardi menggerutu sendiri. Katanya, ''Kalau mereka memperoleh
pengampunan, apakah dengan cara itu mereka bersyukur kepada Allah, dan
kalau
mereka tidak memperoleh pengampunan, apakah mereka tidak takut azab dan
siksa
Allah?''
Kritik Ibn al-Wardi ini memperlihatkan sikap kebanyakan kaum sufi. Pada
umumnya
mereka tidak suka bersenang-senang dan tertawa ria. Mereka lebih suka
menangis
dan tepekur mengingat Allah. Bagi kaum sufi, tertawa ria merupakan
perbuatan
tercela yang harus dijauhi, karena perbuatan tersebut dianggap dapat
menimbulkan ghaflah, yaitu lalai dari mengingat Allah.
Akibat buruk yang lain, tertawa ria dapat membuat hati menjadi mati,
yang
membuat seseorang tidak dapat mengenal Allah (Al-Zumar: 22), tidak
dapat
menerima petunjuk (Al-Baqarah: 7), dan mudah disesatkan oleh setan
(Hajj: 53).
Pada waktu Perang Tabuk, orang-orang munafik berpaling dan menolak
berperang
bersama Nabi. Mereka justru bersenang-senang dan tertawa ria di
belakang
beliau. Tentu saja mereka dikecam oleh Allah dan diancam hukuman berat.
Firman-
Nya, ''Katakanlah: Api neraka itu lebih sangat panasnya jikalau mereka
mengetahui.
Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai
pembalasan
dari apa yang selalu mereka kerjakan.'' (Al-Taubah: 81-82). Ayat di
atas,
menurut pakar tafsir al-Razi, datang dalam bentuk perintah (al-amr),
tetapi
mengandung makna berita (al-khabar). Dalam perspektif ini, ayat
tersebut
bermakna bahwa kegembiraan dan suka cita orang-orang munafik itu
sesungguhnya
sebentar, tidak lama, lantaran kenikmatan dunia tidak kekal alias
terbatas.
Sedangkan duka dan penderitaan mereka di akhirat justru berlangsung
lama dan
terus-menerus, lantaran azab dan siksa Tuhan di akhirat kekal abadi
alias
selama-lamanya. Ini berarti, setiap orang dihadapkan pada dua pilihan
yang
bersifat antagonistik, yaitu tertawa ria di dunia, tetapi menangis di
akhirat,
atau menangis di dunia, tetapi riang gembira dan tersenyum di akhirat.
Dalam
hadis sahih, Nabi pernah berpesan agar kaum Muslim lebih banyak
menangis
daripada tertawa ria. Katanya, ''Jikalau kalian mengetahui apa yang
kuketahui,
pastilah kalian sedikit tertawa dan banyak menangis.'' (HR
Bukhari-Muslim). Di
akhirat, berbeda dengan di dunia, manusia akan terbagi menjadi dua
golongan
saja.
Pertama, golongan yang bersuka cita dan tertawa ria. Mereka itulah para
penghuni surga. Kedua, golongan orang yang menderita dan bermuram
durja. Mereka
itulah para penghuni neraka. Allah berfirman: ''Banyak muka pada hari
itu
berseri-seri, tertawa dan gembira ria, dan banyak pula muka pada hari
itu
tertutup debu dan ditutup pula oleh kegelapan. Mereka itulah
orang-orang kafir
lagi durhaka.'' ('Abasa: 38-42). Semoga kita termasuk golongan orang
yang dapat
tertawa ria di akhirat kelak. Amin.
Entry Filed under: Islami. Tags: Tertawa dan Menagis.
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed